Juni 2017 – SMPN 1 WARU PAMEKASAN
 

Bulan: Juni 2017

Kurikulum 2013 rencananya kembali akan diberlakuan secara nasional mulai Juli mendatang. Pemerintah optimistis, seluruh sekolah yang menerapkan K-13 akan mudah mengimplementasikannya karena metodenya lebih sederhana dan ringkas.

Hasil Revisi Kurikulum 2013untuk diterapkan di tahun pelajaran 2016/2017.

 

Tak banyak perubahan dalam kurikulum yang “baru” itu dibandingkan versi sebelumnya. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemendikbud Totok Suprayitno menuturkan, secara keseluruhan ada lima poin hasil revisi kurikulum 2013.

“Untuk nama, kami sepakati tetap menggunakan nama Kurikulum 2013,” katanya usai pengukuhan 156 orang Narasumber Nasional K13 di Pusdiklat Kemendikbud Depok, Minggu (20/3/2016).

Berikut lima poin-poin pentinghasil revisi Kurikulum 2013

Pertama,  meningkatkan hubungan atau keterkaitan antara kompetensi inti (KI) dan kompetensi dasar (KD).

Kedua, penyederhanaan aspek penilaian siswa oleh guru. Pada K13 versi lawas, seluruh guru wajib menilai aspek sosial dan spiritual (keagamaan) siswa. Sistem ini yang lantas dikeluhkan banyak guru. “Sistem pembelajaran dan penilaiannya dibuat lebih sederhana. Kalau sebelumnya guru-guru mengeluhkan prosesnya pembelanjaran dan penilaiannya yang ribet kini tidak lagi,” terang Totok

Dalam skema yang baru, penilaian sosial dan keagamaan siswa cukup dilakukan oleh guru PPKn dan guru pendidikan agama- budi pekerti. Sementara guru fisika dan mata pelajaran lainnya hanya menilai aspek akademik sesuai bidang yang diajarkan saja.

Totok menambahkan, guru mata pelajaran lain boleh menilai aspek sosial sewajarnya. Seperti terkait kenakalan atau misalnya saat siswa ketahuan mencontek.. Penilaian itu kemudian diserahkan kepada guru Agama dan PPKN

Ketiga, proses berpikir siswa tidak dibatasi. Pada kurikulum yang lama, berlaku sistem pembatasan. Yaitu, anak SD sampai memahami, SMP menganalisis, dan SMA mencipta. Pada kurikulum hasil revisi ini, anak SD boleh berpikir sampai tahap penciptaan.Tentunya dengan kadar penciptaan yang sesuai dengan usia.

Keempat, teori 5M (mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, dan mencipta) tidak sebatas menjadi teori saja. Tetapi, guru dituntut untuk benar-benar menerapkan dalam pembelajaran.

Kelima, struktur mata pelajaran dan lama belajar di sekolah tidak diubah. Meski tidak banyak perubahan, Kemendikbud berharap para pelatih bisa menyajikan unsur kebaruan dalam K13 versi revisi itu. “K13 versi baru ini tetap mendukung proses belajar di kelas yang menyenangkan,” katanya.

Mantan kepala Biro Kepegawaian Kemendikbud itu menambahkan, narasurmber Nasional (NN) dan Instruktur Nasional (IN) yang kemarin juga resmi dikukuhkan dituntut harus bisa berperan maksimal. Sehingga nanti ketika melatih guru di tingkat provinsi atau sekolah tidak mengalami hambatan.

Terima kasih Anda telah membaca informasi tentang 5 Poin Penting Hasil Revisi Kurikulum 2013 semoga bermanfaat

Soft skill dan hard skill sangat penting diaplikasikan dalam pendidikan, karena pendidikan merupakan bagian integral dari proses penyiapan sumber daya manusia yang berkualitas, tangguh, dan terampil. Melalui pendidikan, akan diperoleh calon tenaga kerja yang berkualitas, produktif, dan mampu bersaing. Untuk itu, peserta didik sebagai produk pendidikan dituntut memiliki soft skill dan hard skill (Widarto, et.al, 2012: 410). Salah satu elemen perubahan Kurikulum 2013 pada Kompetensi Lulusan juga menuntut adanya peningkatan dan keseimbangan antara sikap, pengetahuan dan keterampilan untuk membangun soft skill dan hard skill peserta didik.

Soft skill merupakan istilah yang mengacu pada ciri-ciri kepribadian, rahmat sosial, kemampuan berbahasa dan pengoptimalan derajat seseorang (Sophia, 2014: 49). Soft skill berbeda dengan hard skill yang merupakan kemampuan dalam memahami pengetahuan. Peserta didik dikatakan unggul apabila memiliki soft skills dan hard skills yang dikembangkan dan digunakan dengan saling bersinergis (Anna Permanasari, 2011).

image

Pengembangan soft skill dan hard skill di sekolah khususnya pada Madrasah Tsanawiyah (MTs) bukan hal yang mudah, banyak permasalahan yang muncul, baik dari faktor guru, peserta didik, MTs, sarana dan prasarana, perencanaan dan aplikasinya dalam pembelajaran. Faktor-faktor tersebut dapat menghambat tercapainya tujuan pendidikan baik dari standar kompetensi lulusan maupun tujuan pendidikan dalam jangka panjang.

Hasil wawancara dengan guru MTs menunjukkan bahwa guru belum memahami makna atau esensi dari soft skill dan hard skill dan belum mengetahui bagaimana cara mengaplikasikan dalam pembelajaran. Oleh karena itu, soft skill dan hard skill peserta didik belum dikembangkan dalam pembelajaran. Padahal guru seharusnya menjadi role model bagi peserta didik. Anna Permanasari (2011), menyatakan bahwa soft skill seyogyanya tidak diajarkan, melainkan dicontohkan atau ditularkan. Oleh karena itu, guru harus mempunyai soft skills terlebih dahulu seperti disiplin, tanggung jawab, jujur, menghargai orang lain dan kemampuan berkomunikasi. Hal yang paling penting untuk membangun soft skills peserta didik adalah dengan membelajarkan sains menggunakan berbagai teknik dan strategi pembelajaran yang dapat mengakomodasi pengembangan soft skills.

Implementasi kurikulum 2013 merupakan aktualisasi kurikulum dalam pembelajaran dan pembentukan kompetensi serta karakter peserta didik. Hal tersebut menuntut keaktifan guru dalam menciptakan dan menumbuhkan berbagai kegiatan sesuai dengan rencana yang telah diprogramkan (Mulyasa, 2014: 99). Kenyataannya, guru MTs belum mengupdate perangkat pembelajaran sesuai dengan kurikulum 2013. Pelatihan kurikulum 2013 yang berlangsung hanya beberapa hari dirasa masih kurang, karena masih banyak yang belum dipahami, terutama tentang pengembangan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan saintifik dan pengembangan penilaian autentik.

Pembelajaran berbasis pendekatan saintifik atau 5M meliputi lima aktivitas peserta didik yaitu: mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi dan mengkomunikasikan. Lima aktivitas belajar tersebut merupakan aktivitas dalam mengembangkan keterampilan berpikir untuk mengembangkan karakter curiosity peserta didik. Harapannya, peserta didik termotivasi untuk mengamati fenomena yang terdapat di sekitarnya, mencatat dan mengkomunikasikan hasil pengamatannya.

Keberhasilan pembelajaran IPA dipengaruhi oleh perencanaan dan kegiatan pembelajaran yang efektif dan terciptanya suasana yang kondusif dan menyenangkan. Salah satunya dengan membangun motivasi peserta didik dan melibatkan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu, soft skill motivasi belajar peserta didik perlu ditingkatkan agar hard skill pemahaman konsep dan hasil belajar peserta didik lebih optimal.

SMPN 1 WARU PAMEKASAN ©2019. All Rights Reserved.
Powered by WordPress. Theme by Phoenix Web Solutions